Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan gratis periode 1 Januari sampai 3 Mei 2026, tercatat minimal 13 persen siswa sekolah dasar (SD) terdeteksi mengidap hipertensi. Kendati temuan tersebut masih harus diuji lebih lanjut—guna memastikan keterkaitannya dengan faktor hormonal ataupun kecemasan terhadap tenaga medis—pola hidup yang kurang sehat pada anak patut diwaspadai sebagai salah satu pemicu melonjaknya tekanan darah.
Kebiasaan malas bergerak serta hobi mengonsumsi makanan yang tinggi garam, gula, dan lemak harus segera dikurangi. Jika dibiarkan begitu saja, anak-anak berisiko membawa ancaman penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi, hingga mereka dewasa. Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), menegaskan bahwa edukasi seputar gaya hidup sehat sangat krusial sebagai langkah pencegahan awal agar penyakit ini tidak terlanjur berkembang.
“Oleh karena itu, anak-anak wajib dibiasakan berolahraga dan menerapkan pola hidup sehat. Usia 10 tahun adalah masa-masa paling rawan bagi mereka untuk jajan sembarangan. Jadi, edukasi gaya hidup sehat ini paling ideal ditanamkan saat anak menginjak usia enam hingga delapan tahun,” jelasnya dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Waspadai Efek Buruk Garam Berlebih pada Si Kecil
Membiasakan pola makan sehat bisa dimulai dengan membatasi konsumsi garam. Orang tua dapat mengajarkannya sejak dini, bahkan sejak anak mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI). “Lidah itu memiliki memori yang akan terekam di otak anak,” ungkap dr. Eka. Jika anak sudah dikenalkan dengan rasa asin dan manis yang berlebihan sejak usia batita, mereka akan terus mencari makanan dengan cita rasa kuat tersebut hingga dewasa.

Konsumsi sodium yang tidak diawasi dengan ketat sejak masa pertumbuhan akan memberikan beban yang sangat berat pada jantung dan sistem peredaran darah. “Dengan kata lain, kerusakan endotel yang memicu munculnya hipertensi, stroke, hingga gagal jantung sebenarnya sudah mulai berproses sejak lahir,” jelas dr. Eka.
Perangi Gaya Hidup Malas Bergerak dan Risiko Obesitas Akibat Gadget
Kebiasaan untuk aktif bergerak juga wajib ditanamkan sejak dini. Terlalu sering duduk diam atau menerapkan gaya hidup sedentari secara perlahan akan menurunkan ketahanan fisik anak, sekaligus memicu penumpukan kalori sejak mereka masih di usia prasekolah. “Sekarang banyak sekali anak-anak yang mengalami kelebihan berat badan karena asyik main HP atau gadget tanpa diimbangi aktivitas fisik. Akibatnya, angka obesitas pun melonjak,” tutur dr. Eka.
Penimbunan lemak yang berlebihan dapat mengacaukan metabolisme tubuh sekaligus mengundang berbagai gangguan kesehatan serius, mulai dari diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, hingga sesak napas. Terlebih lagi, obesitas yang dialami sejak kecil biasanya akan terbawa sampai usia dewasa, sehingga ancaman penyakit kronis pun bakal semakin tinggi.
Di samping itu, dr. Eka juga mewanti-wanti para orang tua agar menjauhkan anak-anak dari paparan asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif. “Bagi kami para tenaga medis, melihat anak-anak usia SD sudah mulai merokok adalah hal yang sangat memprihatinkan,” ungkap dr. Eka.

