Pernahkah Anda merasa intensitas buang air kecil mendadak berubah atau terasa tidak tuntas? Gangguan pada saluran kemih merupakan masalah kesehatan yang cukup umum, namun sering kali membuat penderitanya merasa tidak nyaman. Untuk mengantisipasinya, sangat penting bagi kita untuk memahami apa saja akar masalahnya. Secara umum, terdapat empat faktor utama yang paling memengaruhi terjadinya gangguan berkemih pada seseorang. Faktor-faktor tersebut bergerak dinamis, mulai dari proses penuaan alami tubuh (usia), pergeseran kadar hormon, hingga indikasi medis lainnya yang memicu sensitivitas kandung kemih.
Masalah pada saluran kemih nyatanya tidak melulu bersumber dari gangguan pada organ kandung kemih itu sendiri. Ada beragam elemen lain—seperti faktor gender (jenis kelamin), proses penuaan tubuh, fluktuasi hormon, hingga efek samping dari konsumsi obat-obatan tertentu—yang berpotensi besar memicu timbulnya keluhan tersebut. Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), PhD, selaku Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional, dan Neurologi, menjelaskan bahwa pemicu gangguan berkemih sifatnya sangat personal dan bisa berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Oleh sebab itu, tim medis wajib menganalisis seluruh faktor komprehensif yang mendasarinya agar metode terapi yang dipilih benar-benar efektif dan tepat sasaran.
Jenis kelamin merupakan salah satu variabel fundamental yang menentukan karakteristik gangguan berkemih pada seseorang. Perbedaan struktur anatomi yang kontras antara pria dan wanita menyebabkan manifestasi klinis dan jenis keluhan yang mereka hadapi tidaklah sama.
Dalam Media Briefing Siloam Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic di Jakarta Pusat pada Senin (29/6/2026), Prof. Harrina menjabarkan bahwa keberadaan kelenjar prostat pada kaum adam menjadi faktor pembeda paling krusial. “Gender memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam kasus ini. Pria memiliki organ prostat yang tidak dimiliki oleh wanita, dan aspek anatomi ini saja sudah menciptakan perbedaan diagnosis yang besar,” urai Prof. Harrina.
Pada pasien pria, keluhan buang air kecil umumnya berakar dari masalah pembesaran prostat. Kondisi ini menekan saluran kemih sehingga aliran urine tersumbat dan kandung kemih gagal dikosongkan secara sempurna. “Kasus seperti inkontinensia urine (urine merembes) atau volume sisa urine yang terlalu tinggi di dalam kantung kemih mayoritas dialami oleh pria. Indikasi awal biasanya mengarah pada hiperplasia prostat jinak (benign prostatic hyperplasia) atau potensi kanker prostat,” tambahnya. Sebaliknya, problem urinari pada wanita lebih sering dipicu oleh dinamika perubahan organ reproduksi dan panggul sepanjang hidupnya. Fase melahirkan secara vaginal serta penyusutan jaringan pasca-menopause dapat melemahkan struktur otot dasar panggul, yang pada akhirnya memicu berbagai keluhan berkemih.
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia seseorang, sistem saluran kemih secara alami akan melewati berbagai fase perubahan degeneratif (penurunan fungsi). Merujuk pada penjelasan Prof. Harrina, salah satu dampak penuaan yang paling kerap dijumpai adalah melonjaknya tingkat sensitivitas pada organ kandung kemih. “Proses penuaan membawa dampak yang sangat masif bagi stabilitas kandung kemih, salah satunya adalah memicu hipersensitivitas. Perubahan inilah yang mendasari mengapa kelompok lansia menjadi lebih sering mondar-mandir ke toilet dan kerap kali merasa kesulitan untuk menahan dorongan buang air kecil,” urainya.
Di samping terjadinya perubahan struktur pada organ kandung kemih itu sendiri, proses penuaan biasanya juga dibarengi dengan munculnya rupa-rupa penyakit kronis yang secara tidak langsung merusak fungsi saluran kemih. “Faktor usia ini linier dengan menumpuknya berbagai penyakit penyerta (komorbid), contohnya seperti diabetes melitus atau kencing manis, serta hipertensi (tekanan darah tinggi). Penyakit-penyakit sistemik ini pada akhirnya memicu manifestasi kelainan yang berdampak langsung pada sistem ekskresi urine,” papar Prof. Harrina. Atas dasar itulah, keluhan buang air kecil yang dialami oleh kelompok lansia umumnya bersifat multifaktorial (disebabkan banyak hal), sehingga penanganannya memerlukan rangkaian pemeriksaan medis yang komprehensif dan mendalam.
Fluktuasi serta penurunan kadar hormon yang berjalan seiring proses penuaan merupakan faktor pemicu lain yang dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran kemih, baik bagi kaum hawa maupun kaum adam. Pada tubuh wanita, merosotnya produksi hormon estrogen secara drastis saat memasuki masa menopause terbukti berdampak buruk pada tingkat elastisitas serta kesehatan jaringan di sekitar saluran kemih dan otot dasar panggul. Sementara itu bagi pria, pergeseran keseimbangan hormonal yang terjadi selama fase andropause juga memegang andil yang tidak sedikit dalam mengganggu stabilitas dan fungsi sistem urinari mereka.
Prof. Harrina menegaskan bahwa pergeseran regulasi hormon ini memiliki korelasi kuat terhadap melonjaknya risiko berbagai keluhan urinari. “Kaum wanita akan melewati fase menopause, sementara kaum pria menghadapi masa andropause. Dampak nyata pada wanita akibat perubahan ini adalah kerentanan yang tinggi untuk mengalami inkontinensia urine (mudah mengompol) serta peningkatan insiden infeksi saluran kemih (ISK),” urainya. Beliau juga mengingatkan agar ketidakseimbangan hormonal ini tidak lagi dipandang sebelah mata sebagai proses penuaan yang wajar apabila gejalanya sudah mulai mengganggu kenyamanan dan mobilitas aktivitas sehari-hari.
Faktor pemicu terakhir yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah riwayat konsumsi obat-obatan tertentu serta kondisi berat badan berlebih (obesitas). Menurut penjelasan Prof. Harrina, zat aktif dalam obat yang dikonsumsi pasien sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap kinerja sistem urinari, sehingga riwayat pengobatan selalu menjadi aspek krusial yang diteliti saat sesi pemeriksaan medis.
“Rutinitas pasien dalam mengonsumsi obat-obatan tertentu sangat memengaruhi regulasi berkemih. Di sisi lain, masalah obesitas juga erat kaitannya dengan kemunculan stress incontinence, yaitu kondisi di mana seseorang tidak sengaja mengompol saat batuk,” urainya. Pada pengidap obesitas, akumulasi lemak tubuh memberikan beban tekanan yang jauh lebih besar pada area panggul. Tekanan berlebih ini secara mekanis melemahkan katup kandung kemih, sehingga urine dapat merembes keluar tanpa disadari saat pasien sedang batuk, bersin, tertawa, atau melakukan aktivitas fisik lain yang memicu tekanan mendadak di dalam rongga perut.
Mengingat pemicu gangguan berkemih bersifat multifaktorial (disebabkan oleh banyak hal), Prof. Harrina mengimbau agar keluhan seperti frekuensi buang air kecil yang terlalu sering, rasa kebelet yang sulit ditahan, hingga rembesan urine yang keluar tanpa disadari tidak dianggap enteng sebagai konsekuensi normal dari proses penuaan. Melakukan pemeriksaan ke dokter sejak dini sangatlah krusial untuk membantu mengidentifikasi akar masalah yang sebenarnya. Dengan diagnosis yang akurat, tim medis dapat merancang program penatalaksanaan yang paling tepat dan dipersonalisasi sesuai dengan kondisi biologis masing-masing pasien.
